Rabu, 29 Juli 2015

1 DOLLAR 11 SEN


1 DOLLAR 11 SEN
Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik Ielakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan merekat elah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi... tapi mereka tidak punya biaya untuk itu.
Sally mendengar ayahnya berbisik, Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”
Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dan tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat...tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat.
Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian... tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal.
Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil
“Apa yang kamu perlukan ?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah. “Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”
“Tapi saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. Dia sakit...dan saya ingin membeli keajaiban.”
“Apa yang kamu katakan ?,” tanya sang apoteker.
“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang... jadi berapa harga keajaiban itu?”
“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”
“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”
Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”
“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes dipipinya. “Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya... tapi saya juga mempunyai uang.”
°Berapa uang yang kamu punya ?” tanya pria itu lagi.
“Satu dollar dan sebelas sen,’ jawab Sally dengan bangga. “dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”
“Wah kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. “Satu dollar dan sebelas sen... harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu”. Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata : “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”
Pria itu adalah Dr. Canlton Armstrong, seonang ahli bedah terkenal....Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. “Operasi itu,” bisik ibunya, “adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya”.
Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut. . .satu dollar dan sebelas sen... ditambah dengan keyakinan.
(link from Hedikin - Herlia)

izin

IZIN
MANUSIA itu makhluk paling unik. Selain itu, logikanya sering kacau, sehingga suka menarik kesimpulan sendiri: “Tuhan tidak adil, tidak memihak yang lemah dan teraniaya.” Ia memandang adil atau baik dan kacamata sendiri, bukan sesuai kehendak Ilahi.
Ketidakadilan itu pula yang disoal seorang ibu, kala dua bayinya yang lucu meninggal. “Kenapa bukan anak orang lain,” katanya menggugat Tuhan. Ia tak rela. ltulah buah kegamangan iman jika cinta pada sesama melebihi kepada Allah.
Berbeda dengan sikap Barakah ‘Abidah di Arabia. Ia sukses. “Namun, aku masih saja khawatir kalau-kalau penghasilanku sama sekali tidak berarti di hadapan Allah. Karena itu, aku pun sedih seraya berpikir, sekiranya Allah memang benar-benar menginginkan kekayaanku, Dia pasti bakal membinasakan harta dan anak-anakku,” katanya.
Benar saja. Akhirnya, baik anak-anak maupun hartanya tidak tersisa. “Namun, semuanya toh malah membuatku bahagia. Aku curiga, jangan-jangan Allah menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagiku melalui berbagai macam ujian ini. Dan inilah cara-Nya mengingat diriku serta menjadikan jiwaku suci,” ujarnya.
Menyucikan harta juga dilakukan seorang wanita nonmuslim asal Sumatera. Ia senang membelikan peti mati pada keluarga yang tak mampu. Tiap minggu, dua atau tiga peti pasti disumbangkan. “Saya merasa nikmat sekali setelah membantu mereka,” katanya.
Namun, kenikmatan itu ada yang mengganjal. Soalnya, uang untuk membeli peti mati itu bukan jerih payah sendiri, melainkan hasil keringat suami. “Saya ingin bisnis sendiri agar bisa membelikan peti mati untuk orang-orang tak mampu,” ujarnya.
Rasanya, jika pemberian itu seizin suami, makna dan barokahnya tetap sama, tanpa ada ganjalan. Persis kisah Narada di pewayangan. Dia putra seorang pembantu. Dia tidak terdidik. Kadang, jika ibunya berhalangan, dia pula yang melayani para resi.
Dalam Srimad-Bhagavata diuraikan bahwa Narada, yang mencuci piring bekas makan para penyembah mulia itu, ingin mencicipi sisa-sisa makanan. Ia pun minta izin kepada para resi. “Bolehkah saya makan makanan sisa ini,” kata Narada penuh harap. Diizinkan.
Rupanya, izin itulah yang membebaskannya dan segala reaksi dosa. Rupanya, sisa makanan para resi itu pula yang berangsur-angsur membuat hati Narada sesuci mereka. Bahkan, melalui pergaulan itu, minat hatinya untuk memuji kebesaran Tuhan berkembang pesat.
Cerita tentang izin juga mengingatkan seorang budak cantik bernama Tuhfah di abad IX. Ia tak mengenal tidur maupun makan. Kala kondisinya makin gawat, majikannya mengirim dia ke rumah sakit jiwa. Kendati ia berpakaian mewah dan wangi, kedua kakinya dirantai. Ia sering melantunkan bait-bait syair cinta.
Wahai, aku tidak gila tapi hanya mabuk!
Kalbuku sadar betul dan amat bening.
Satu-satunya dosa dan kesalahanku ialah dengan tidak tahu malu menjadi kekasih-Nya...
Dan, setelah itu, Tuhfah pingsan. Begitu siuman, ia ditanya siapa yang engkau cintai? “Aku mencintai Zat yang membuatku sadar akan anugerah, yang berbagai macam karunia-Nya menyebabkanku dikenai kewajiban, yang dekat dengan segenap kalbu, yang mengabuikan orang-orang yang membutuhkan,” ujarnya.
Syaikh Al-Saqati yang mendengar syair itu tergetar. Ia menyimpulkan, Tuhfah tidak gila, dan memintanya pergi ke mana saja. Tapi, gadis itu menjawab: “Aku hanya akan pergi jika majikanku mengizinkan. Kalau tidak, aku akan tetap di sini.”“Demi Allah,” kata Al-Saqati dalam hati, “ia Iebih bijak ketimbang diriku.”
Tanpa disangka-sangka, majikan Tuhfah datang. Ternyata, wanita yang mahir menyanyi dan bermain harpa itu dibelinya 22.000 dirham. “Semua kekayaan dan modalku habis,” katanya. Ia berharap untung. Ternyata, Tuhfah justru sering termenung, menangis, dan membuat orang lain tidak bisa tidur.
Itu sebabnya, dia dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Jika begitu, “Berapa pun harga yang kau minta, akan kubayar,” kata Al-Saqati kepada majikan Tuhfah. Tawaran itu dicemoohkan. Memang, Al-Saqati tak punya uang sedirham pun saat itu. Sembari berlinang air mata, ia pulang ke rumah.
Malam itu pula, pintu rumah Al-Saqati diketuk orang. Orang itu, yang menyebut dirinya Ahmad Musni, membawa lima pundi uang. Ia datang atas bisikan “suara gaib” agar Al-Saqati bisa membebaskan Tuhfah. Kontan, Al-Saqati bersyukur mencium tanah. Esoknya, ia gamit tangan tamunya menuju rumah sakit.
Tak urung, penebusan itu membuat mata Tuhfah berlinang. Di saat itu pula, majikan Tuhfah datang sembari meratap dan menangis. Aneh!
Janganlah menangis, “Harga yang kau minta telah kubawakan -- dengan keuntungan lima ribu dinar,” kata Al-Saqati
(Wanita-wanita Sufi, Dr.Javad Nurbakhsh).
“Demi Allah, tidak,” kata majikan Tuhfah. Al-Saqati menambah keuntungan 10.000 dinar. Lagi-lagi dijawab, “Tidak, Tuan.” “Sekiranya Anda memberiku seluruh dunia ini untuk membelinya, aku tidak akan menerimanya,” ia menambahkan. Ia ingin membebaskan Tuhfah tanpa penebusan. Budak itu pun pergi dengan linangan air mata.
Waktu pun berlalu. Al-Saqati, majikan Tuhfah, dan Ahmad Musni menunaikan haji. Tapi, di perjalanan, Ahmad wafat. Kala tawaf mengelilingi Ka’bah, Al-Saqati mendengar ratapan aneh nan pilu, jerit kesedihan dan hati yang terluka. Namun, ia tak mengenalinya. “Maha Suci Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia. Dulu aku pernah dikenal. Kini aku tidak dikenal lagi. Ini aku, Tuhfah,” katanya.
Masya Allah! Begitu diberitahu bahwa mantan majikannya juga sedang berhaji, gadis itu berdoa sebentar, lalu roboh di samping Ka’bah dan wafat. Tak lama setelah itu, mantan majikannya yang sedih melihat Tuhfah telah tiada terjatuh di samping Tuhfah, lalu meninggal pula. Tentu, takdir di depan rumah Allah ini seizin-Nya jua. (Widi Y)

Bagian Penting tubuhmu

Bagian Penting tubuhmu
Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, “Telinga, Bu.” Tapi, ternyata itu bukan jawabannya.
“Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti.”
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. “Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita”.
Dia memandangku dan berkata, “Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta.”
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dan tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, “Bukan. Tapi, kamu makin pandai dan tahun ke tahun, Anakku.”
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?”
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti itu aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, “Pertanyaan ini penting. ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar “hidup”. Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting.”
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu.”
Aku bertanya, “Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?”
Ibu membalas, “Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup in semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya.”
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti. (swaramer)

Kearifan Emas

Kearifan Emas
Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain.”
Sang sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”
“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dan satu keping perak.”
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dan cincin ini Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “ltulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dan pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”.