Senin, 03 Agustus 2015

Cinta Seorang IBU

Cinta Seorang IBU

Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya.Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.
Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang kusayangi, supaya ía tidak berbuat dosa Iebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat,sebelum Aku mati”.
Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.
Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung. Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng Gereja berdentang menandakan pukul enam pagi.
Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis, meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan. “Tuhan, Ampunilah Anak Hamba. Biarlah HambaMu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya. Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah . Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni. Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng Gereja belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dan waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng di Gereja. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi, suara dentangnya tidak ada.
Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dan tali yang di pegangnya mengalir darah, darah tersebut datangnya dan atas, berasal dan tempat di mana Lonceng diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata . Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
Demikianlah, sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya, betapapun jahatnya si Anak. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing-masing, selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di Dunia ini Amin.
Sesuatu untuk dijadikan renungan untuk kita agar selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.
There is a story living in us that speaks of our place in the world. It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves

Find Your Love

Find Your Love
Bila Anda tak mencintai pekerjaan Anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana.
Rasakan kegembiraan dan pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan.
Bila Anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja Anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor Anda.
ini mendorong Anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh Anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dan dan ke tempat kerja Anda.
Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.
Namun, bila Anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa Anda cintai dan kerja Anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dan balik jendela. Apa saja.
Bila Anda tak menemukan yang bisa Anda cintai dan pekerjaan Anda, maka mengapa Anda ada di situ?
Tak ada alasan bagi Anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang Anda cintai, lalu bekerjalah di sana.
Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus

Takut Membuat kesalahan

Takut Membuat kesalahan

Ketika saya diundang sebagai pembicara untuk seminar lain di kampus yang sama, saya - berkesempatan bertanya langsung padanya. “Sebenarnya apa yang kamu takutkan?”
Ia menjawab, “Takut menghadapi orang banyak.”
Saya tanya lagi, “Memangnya orang banyak akan berbuat apa sih? Kok sampai harus ditakuti?”
Ia sendiri bingung, sampai akhirnya ia sadar bahwa yang ditakutinya hanya satu, yaitu “takut melakukan kesalahan”.
Sinta lupa kata-kata John Maxwell yang berbunyi: “Kesalahan terbesar yang kita perbuat dalam hidup ini adalah takut membuat kesalahan. Rasa takut membuat kesalahan ini ternyata paling banyak menghambat kemajuan manusia. Seorang pelukis yang akan mulai melukis tidak boleh merasa takut membuat kesalahan. Kalau ia takut membuat kesalahan, apa jadinya dengan hasil lukisannya? Jangan-jangan ia tidak akan pernah mulai melukis.
Ketika berhenti kerja karena tidak cocok dengan pemegang saham yang baru, Martin ingin memulai bisnis baru di bidang perlengkapan komputer. Tapi berbulan-bulan ia ragu-ragu karena takut gagal. Uang pesangon yang akan dijadikan modal sudah mulai berkurang karena terpakai untuk biaya hidup sehari-hari. Ia pun semakin was-was. Memang ia takut gagal karena modalnya pas-pasan. Tapi semakin ia menunda bisnisnya, maka modalnya juga akan semakin berkurang. Martin harus bertindak cepat.
Untunglah kemudian ia sadar bahwa ketakutannya harus diatasi. Ia pun bertanya pada temannya yang sudah berhasil di bidang yang sama. Ia mempelajari segala seluk beluk bisnis itu lebih mendalam agar - ia dapat mengurangi kemungkinan risiko gagal. Akhirnya ia mulai juga. Bulan ketiga ia sudah mendapat untung besar. Tahun kedua ia sudah memiliki dua toko komputer di Jakarta, bahkan tahun ini ia akan membuka dua toko lagi di Tangerang dan Bekasi.
Rosa menunda-nunda keputusan untuk mengambil waralaba sebuah restoran cepat saji dan membukanya di Bandung. Dan hasil analisanya, ia yakin bahwa pasti restoran itu laku karena Iingkungan itu cukup ramai dan di situ belum ada restoran cepat saji yang enak. Tapi ia takut salah.
Empat bulan kemudian orang lain membuka waralaba restoran tersebut di Iingkungan yang sama..Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Tiap hari restoran itu dipenuhi pelanggan. ‘life must go on!’
Ketika Rosa menunda tindakannya karena takut salah, orang lain telah mengambil kesempatan itu. Karena Sinta takut melakukan kesalahan sehingga ia menolak menjadi pembawa acara, orang lainlah yang memperoleh kesempatan untuk belajar.
Isna harus menjadi pembicara di sebuah konferensi pers dalam rangka peluncuran produk baru. Dalam acara tersebut, Isna berusaha menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin. Rolan, rekan kerjanya, berkomentar di belakang. “Dia bicaranya salah. Kalau saya mau, saya bisa memojokkannya sekarang. Saya bisa mempermalukannya di depan orang banyak.”
Sungguh sangat disayangkan. Bukannya mendukung atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat, Rolan justru berpikir negatif. Jelas sekali terlihat bahwa ia sebenarnya ini melihat Isna duduk di meja depan sedangkan ia sendiri tidak kelihatan. Kalau ia berpikiran benar, tidak mungkin ia mengucapkan kata-kata yang merendahkan orang lain seperti itu. Untuk apa ia mempermalukan Isna? Supaya ia sendiri kelihatan hebat? Kelicikan hatinya sudah terlihat.
Sebaliknya Isna sangat positif. Ia tidak takut membuat kesalahan. Mungkin ia pernah malakukan kesalahan, tapi ia belajar agar kesalahan itu tidak terulang lagi, Ia belajar dan kesalahan. Kini, apabila dibandingkan, Isna jauh lebih unggul untuk tampil di depan umum dibandingkan Rolan yang berpikiran negatif. Mungkin Rolan dalam hati berpikir bahwa ia lebih baik daripada Isna, tapi yang menentukan adalah orang lain bukan? Pendengarlah yang lebih bisa merasakan dan melihat perbedaan yang menyolok diantara keduanya. Fakta membuktikan.
Rosa kemudian belajar dan pengalaman pahitnya untuk tidak takut lagi melakukan kesalahan, Ia segera mencari lokasi lain yang bagus dan membuka waralaba restoran tersebut yang ternyata memang laku keras, meskipun tidak sebagus pilihan pertamanya dulu. Tapi kini ia tidak membiarkan rasa ‘takut membuat kesalahan’ itu menghambat langkahnya. Ia meminimalisasi resiko dengan persiapan yang matang, lalu segera bertindak.
Sinta pun kemudian sadar bahwa ketakutan itu hanya ada dikepalanya. Hanya ada dalam pikirannya. Bukan sesuatu yang nyata. Ia tinggal memilih untuk mengatasinya atau menyerah pada pikiran negatif tersebut. Ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan mengajukan diri menjadi pembawa acara seminar tahun depan. Ia tidak mau lagi membiarkan kesempatan lewat tanpa dimanfaatkan. Karena kalau ia tidak mau menggapai kesempatan, orang lain yang akan meraihnya. Tidak perlu takut membuat kesalahan! ‘Go for it!’ (Lisa Nuryanti-Swaramendeka)

Si Jujur & Si Berani

Si Jujur & Si Berani

Seorang raja yang memasuki usia senja ingin mencari penggantinya. Berbeda dengan kebiasaan, ia tak menunjuk anak-anak maupun pembantu terdekatnya. ia justru memanggil para pemuda di negeri itu dan berpidato di hadapan mereka. “Aku akan mengadakan sayembara. Kalian semua akan mendapatkan sebuah biji. Tanamlah biji ini, rawatlah, dan kembalilah setahun lagi dengan tanaman kalian masing-masing. Bagi yang memiliki tanaman terbaik akan langsung kutunjuk menjadi raja menggantikanku!”
Seorang pemuda bernama Badu terlihat amat antusias. Ia menanam biji itu, dan menyiraminya tiap hari. Tapi sampai sebulan berlalu belum tumbuh apa-apa. Setelah Beberapa bulan, para pemuda mulai membicarakan tanaman mereka yang tumbuh tinggi, namun pot Badu masib kosong. Badu tak mengatakan apapun pada teman-temannya. Ia tetap menunggu bijinya tumbuh.
Setahun berlalu. Semua pemuda membawa tanamannya kepada raja. Semula Badu enggan, namun ibunya mendorongnya pergi dan berbicara apa adanya. Raja menyambut para pemuda seraya memuji tanaman yang mereka bawa. “Kerja kalian luar biasa. Tanaman kalian bukan main indahnya. Aku akan menunjuk seorang dan kalian menjadi raja yang barul”
Tiba-tiba raja yang melihat Badu berdiri di belakang memanggilnya. Badu panik, “Jangan-jangan aku akan dibunuh,” pikirnya. Suasana kontan ricuh dengan ejekan dan cemoohan hadirin menyaksikan potnya yang kosong. “Diam semuanya!” teriak raja. Ia menoleh pada Badu, kemudian mengumumkan, “lnilah raia kalian yang baru!” Semua terkejut.
Bagaimana mungkin orang yang gagal yang menjadi raja? Raja melanjutkan, “Setahun yang lalu, aku memberi kalian sebuah biji untuk ditanam. Tapi yang kuberikan adalah biji yang sudah dimasak dan tak dapat tumbuh. Kalian semua telah menggantinya dengan biji yang lain. Hanya Badu yang memiliki KEJUJURAN dan KEBERANIAN untuk membawa pot dengan biji yang kuberikan. Karena itu dialah yang kuangkat menggantikanku!
Ada 2 kata penting yang dapat diambil dan cerita di atas. Pertama, kejujunan. Inilah dasan perilaku seseorang. Di jaman Nabi, ada seorang yang bertobat dan ingin menata dirinya.
Tips nabi sederhana saja: “Jangan Bohong!” Onang ini senang karena Nabi tak melarang hal-hal yang lain. “Kalau cuma jangan bohong sih mudah,” pikinnya. Maka ia pun melakukan apa yang biasa dilakukannya.
Ia mau mencuri, tapi berpikir, “Bagaimana kalau tetanggaku menanyakan asal-usul hartaku ini?” lapun membatalkan niatnya. Ia ingin berselingkuh, tapi berpikir, “Bagaimana kalau nanti keluargaku menanyakan kemana aku pergi?” Lagi-lagi ia mengurungkan niatnya. Begitulah seterusnya. Setiap ingin melakukan maksiat ia kontan membatalkannya.
Jadi kejujuran akan membawa perubahan mendasar pada diri seseorang.Tapi tanpa keberanian, kejujuran takkan membawa penubahan bagi orang banyak. Kejujuran hanya menghasilkan pengikut (follower) bukan pemimpin. Untuk bisa merubah masyarakat dibutuhkan keberanian.
Masalahnya, dan manakah datangnya keberanian? Keberanian datang kalau kita mampu menaklukkan rasa takut. Rasa takut inilah sumber segala macam kejahatan di dunia ini. Contohnya, perasaan marah. Sebenarnya, hanya jika Anda merasa takutlah Anda akan marah. Coba renungkan kapan terakhin kali Anda marah. Teruskan renungan Anda. Telusurilah rasa takut yang tersembunyi di balik kemarahan Anda. Apa yang Anda takutkan hilang dan direnggut dari diri Anda? Ketakutan itulah yang membuat Anda marah.
Rasa takut yang ada menunjukkan bahwa kita belum mandiri. Kebahagiaan dan rasa aman kita masih bersumber pada sesuatu di luar diri kita! (Avan .P)

mengapa Berteriak?

mengapa Berteriak?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, Ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?’
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab
“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
Tapi sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.
Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”
Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dan mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. “Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampai kan
Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”
sumber Unknown (Tidak Diketahui)

Menemukan Apa Yang Paling Penting

Menemukan Apa Yang Paling Penting

Setelah mengikuti pelatihan kepemimpinan mengenai Apa Yang Paling Penting, seorang eksekutif mengirimkan surat ke kantor Franklin Covey di Amerika Serikat. Isinya cukup menggugah, karena itu saya ingin menuliskan kutipannya untuk Anda semua.
“Saya mengikuti pelatihan Anda setahun lalu. Sebelumnya saya tak sadar bahwa apa yang saya lakukan tiap hari haruslah didasarkan pada nilai-nilai saya. Selesai pelatihan saya mulai menyelami nilai-nilai saya dan mencari apa yang terpenting bagi saya. Dalam proses kontemplasi tersebut saya menemukan bahwa yang terpenting adalah anak lelaki saya yang berusia 8 tahun. Saya sadar belum melakukan apa-apa untuknya. Karena itu, sejak tahun lalu saya putuskan untuk mencurahkan perhatian untuknya
Eksekutif ini kemudian menceritakan beberapa kejadian menyenangkan yang ia alami bersama anaknya. Di halaman ketiga suratnya ia mengatakan, “Minggu lalu, anak saya itu meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Saya sangat sedih karena kehilangan anak yang tercinta. Tapi saya sama sekali tak merasa bersalah. Untuk pertama kalinya saya merasakan suatu ketenangan batin yang dalam. Terima kasih. Anda telah merubah hidup saya.”
Langkah terpenting dalam hidup adalah menemukan apa yang paling penting. Banyak orang yang terlalu sibuk, sampai lupa merenungkan apa yang sebenarnya mereka cari. Meneka melakukan sesuatu yang tak jelas tujuannya.
Mereka melakukan begitu banyak hal yang tak penting dan mengorbankan hal-hal yang penting. Hidup memang penuh kesenangan yang menipu. Karena itu, sebelum berhasil menemukan yang terpenting, Anda akan menganggap semua hal penting. Akibatnya, tak pernah cukup waktu untuk melakukan semuanya.
Orang yang melakukan hal terpenting dalam hidupnya senantiasa merumuskan tujuan dan apapun yang dilakukannya. Lebih dan itu, Anda penlu menuliskan tujuan tersebut dengan jelas. ini penting, karena banyak hal dapat mengganggu dan membelokkan Anda dan tujuan semula.
Ini salah satu contohnya. Sebagai orangtua Anda mengatakan bahwa semua tindakan Anda adalah demi kebahagiaan sang anak. Karena, tujuan tersebut tak pernah dituliskan secara jelas, akhirnya yang Anda lakukan bukan untuk kebahagiaan mereka, tapi untuk kebahagiaan Anda sendiri.
Ada anak yang berbakat melukis dan ingin menjadi pelukis kenamaan, tapi ayahnya menginginkannya jadi insinyur. “Menjadi pelukis tak bergengsi dan tak menjamin hidupmu kelak,” kata ayahnya. Anak ini berhasil lulus, tapi tak berminat belajar dan bekerja di bidang itu. Tanpa disadari sang ayah sudah bergeser dan tujuan semula.
Bahkan untuk berlibur pun kita perlu menuliskan tujuan kita. Mungkin Anda berkomentar, “Kok repot-repot amat sih, bukankah kita ingin santai.” Anda salah! Merumuskan tujuan yang jelas justru akan memudahkan Anda menciptakan liburan yang menyenangkan.
Seorang kawan suatu ketika berlibur ke Yogyakarta. Kebetulan ia pernah kuliah disana. Sampai di Yogya ia kemudian menghubungi teman-teman lamanya sehingga ia disibukkan oleh acara “reunian,” sementara istri dan anak-anaknya dibiarkan tinggal di hotel. Akhirnya liburan justru menciptakan kesenjangan komunikasi dalam keluarga.
Seorang kawan lain pernah pula mengalami liburan yang tak menyenangkan, karena tergoda oleh “efisiensi.” Dengan alasan penghematan, ia tak tinggal di hotel berbintang, walaupun sebenarnya anggarannya cukup memadai. Kepada keluarganya ia bilang, “Buat apa membayar hotel mahal-mahal, paling-paling hanya buat tidur.” Suasana liburan menjadi kurang menyenangkan. Tujuan liburan untuk relaksasi dan menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga semakin jauh dan kenyataan.
Godaan-godaan semacam itu akan senantiasa Anda alami dalam hidup.Karena itu tanpa tujuan yang dirumuskan secara jelas sangat mudah kita berbelok dan malah menjauhi tujuan semula.
Untuk dapat sukses dalam hidup Anda hanus menemukan apa yang paling penting. Saya ingin mengajak Anda membayangkan suatu han yang pasti akan Anda lalui. Di hari itu Anda melihat dini Anda sendiri sedang terbaring di ruangan yang dipenuhi kerabat dan handai tolan. ini adalah hari pemakaman Anda. Mereka semua memenuhi rumah Anda untuk mengekspresikan penghargaannya kepada Anda.
Masing-masing orang membawa kenangan tersendiri mengenai Anda. Itu tergambar dani wajah mereka masing-masing. Sebelun jenazah Anda dikuburkan beberapa dan mereka diminta menyampaikan “pidato singkat” mengenai Anda. Cobalah Anda renungkan dalam-dalam. Apa yang Anda ingin agar masing-masing pembicara itu berbicara mengenai Anda? Orang tua macam apakah Anda? Suami/Istri macam apakah Anda? Anak seperti apa? Saudara macam apa? Rekan kerja seperti apa? Tetangga macam apakah Anda?
Coba renungkan skenario di atas dalam-dalam. Setelah itu rumuskan dan tuliskan apa yang dapat Anda lakukan agan mereka semua memiliki kesan yang mendalam terhadap hidup Anda. ltulah tujuan Anda. Dengan demikian Anda akan paham apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup. (Avan .P)

Bunyi Yang Berarti

Bunyi Yang Berarti

Suatu hari, seorang dari desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi ribut mobil-mobil dan derap orang yang lalu-lalang sangat menganggu orang desa itu. Kedua orang itu kemudian berjalan-jalan dan tiba-tiba orang desa itu berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik, ‘berhentilah sebentar. Apakah kamu mendengar suara yang kudengar?”
Teman kotanya itu menoleh ke arah orang desa itu sambil tersenyum, dan kemudian berkata, “Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara onang lalu-lalang. Apa yang kau dengar?”
“Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar suara nyanyiannya.”
Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Saya pikir kamu hanya bergurau. Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainya ada. bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan ini? Jadi kamu pikir kamu bisa mendengarkan suara seekor jangkrik?”
Kata orang desa itu, “Ya! Ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini sekarang.”
Orang desa itu berjalan ke depan beberapa langkah, lalu berdiri di samping tembok suatu rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat. Orang Indian itu memetik beberapa daun, dan di atas daun itulah terdapat seekor jangkrik yang bernyanyi keras sekali.
Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik itu, dan dia pun mulai bisa mendengar kan suara nyanyiannya. Ketika mereka kembali berjalan-jalan, orang kota itu berkata kepada teman desanya, “Kamu secara alami bisa mendengar lebih baik dari kami.”
Orang desa itu tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Sekarang lihat, saya akan memperlihatkannya kepadamu!”
Lalu, orang desa itu mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Kemudian orang desa itu memungut uang logam itu dan menyimpannya kembali di kantungnya, dan kedua orang itu kembali berjalan-jalan.
Kata orang desa itu, “Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras daripada nyanyian jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota mendengarnya dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya orang yang mendengar suana jangkrik itu. Alasannya tentu bukan bahwa orang desa bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Tidak. Alasannya adalah bahwa kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan.”
Seringkali ketika kita dalam masalah, kita berteriak memohon pertolongan pada Tuhan, dan kita merasa Dia diam saja. Ketika membaca cerita ini kita jadi sadar, sebabnya bukan karena Tuhan tidak menjawab, tapi karena kita lebih fokus pada diri kita sendiri dan permasalahannya daripada fokus pada Tuhan dan pertolongan-Nya.
Kita memasang telinga agar Tuhan menjawab sesuai dengan keinginan dan cara kita dan menolak suara Tuhan yang mengatakan bahwa Dia menyediakan jalan lain yang Iebih baik. (swaramerdeka)

Melihat Kebaikan Orang Lain

Melihat  Kebaikan Orang Lain

Anjuran ini sama sekali tidak bermaksud agar anda selalu menyenangkan orang lain, karena sebenarnya anda takkan mampu melakukan hal itu.
Namun agar hidup anda lebih produktif, lebih efektif, dan lebih ringan. Bila semua orang senang mencari-cari sisi buruk orang lain, maka dunia akan penuh dengan kebingungan. Anda akan berhadapan dengan puluhan nasehat, ratusan saran bahkan ribuan cacimaki.
Hal ini berlaku pula pada diri anda. Selalu melihat keburukan orang lain, membuat hidup anda menjadi kusam. Sedangkan dengan melihat kebaikan orang lain, hidup menjadi menyenangkan. Anda akan mempunyai lebih banyak waktu untuk menikmatinya. Kulit jeruk terasa pahit. Sedangkan isi jeruk terasa manis menyegarkan. Bukankah kita belajar dari alam?
Kita mengupas dan menyingkirkan kulit jeruk yang pahit untuk meneguk kesegaran buah jeruk. Kita tak menyukai keburukan maka singkirkan. Kita mencari kebaikan maka carilah. Dan temukan itu pada setiap orang yang hadir dalam hidup anda.
By H e n d i k i n – Henlia

Menemukan Apa Yang Paling Penting

Menemukan Apa Yang Paling Penting

Setelah mengikuti pelatihan kepemimpinan mengenai Apa Yang Paling Penting, seorang eksekutif mengirimkan surat ke kantor Franklin Covey di Amerika Serikat. Isinya cukup menggugah, karena itu saya ingin menuliskan kutipannya untuk Anda semua.
“Saya mengikuti pelatihan Anda setahun lalu. Sebelumnya saya tak sadar bahwa apa yang saya lakukan tiap hari haruslah didasarkan pada nilai-nilai saya. Selesai pelatihan saya mulai menyelami nilai-nilai saya dan mencari apa yang terpenting bagi saya. Dalam proses kontemplasi tersebut saya menemukan bahwa yang terpenting adalah anak lelaki saya yang berusia 8 tahun. Saya sadar belum melakukan apa-apa untuknya. Karena itu, sejak tahun lalu saya putuskan untuk mencurahkan perhatian untuknya
Eksekutif ini kemudian menceritakan beberapa kejadian menyenangkan yang ia alami bersama anaknya. Di halaman ketiga suratnya ia mengatakan, “Minggu lalu, anak saya itu meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Saya sangat sedih karena kehilangan anak yang tercinta. Tapi saya sama sekali tak merasa bersalah. Untuk pertama kalinya saya merasakan suatu ketenangan batin yang dalam. Terima kasih. Anda telah merubah hidup saya.”
Langkah terpenting dalam hidup adalah menemukan apa yang paling penting. Banyak orang yang terlalu sibuk, sampai lupa merenungkan apa yang sebenarnya mereka cari. Meneka melakukan sesuatu yang tak jelas tujuannya.
Mereka melakukan begitu banyak hal yang tak penting dan mengorbankan hal-hal yang penting. Hidup memang penuh kesenangan yang menipu. Karena itu, sebelum berhasil menemukan yang terpenting, Anda akan menganggap semua hal penting. Akibatnya, tak pernah cukup waktu untuk melakukan semuanya.
Orang yang melakukan hal terpenting dalam hidupnya senantiasa merumuskan tujuan dan apapun yang dilakukannya. Lebih dan itu, Anda penlu menuliskan tujuan tersebut dengan jelas. ini penting, karena banyak hal dapat mengganggu dan membelokkan Anda dan tujuan semula.
Ini salah satu contohnya. Sebagai orangtua Anda mengatakan bahwa semua tindakan Anda adalah demi kebahagiaan sang anak. Karena, tujuan tersebut tak pernah dituliskan secara jelas, akhirnya yang Anda lakukan bukan untuk kebahagiaan mereka, tapi untuk kebahagiaan Anda sendiri.
Ada anak yang berbakat melukis dan ingin menjadi pelukis kenamaan, tapi ayahnya menginginkannya jadi insinyur. “Menjadi pelukis tak bergengsi dan tak menjamin hidupmu kelak,” kata ayahnya. Anak ini berhasil lulus, tapi tak berminat belajar dan bekerja di bidang itu. Tanpa disadari sang ayah sudah bergeser dan tujuan semula.
Bahkan untuk berlibur pun kita perlu menuliskan tujuan kita. Mungkin Anda berkomentar, “Kok repot-repot amat sih, bukankah kita ingin santai.” Anda salah! Merumuskan tujuan yang jelas justru akan memudahkan Anda menciptakan liburan yang menyenangkan.
Seorang kawan suatu ketika berlibur ke Yogyakarta. Kebetulan ia pernah kuliah disana. Sampai di Yogya ia kemudian menghubungi teman-teman lamanya sehingga ia disibukkan oleh acara “reunian,” sementara istri dan anak-anaknya dibiarkan tinggal di hotel. Akhirnya liburan justru menciptakan kesenjangan komunikasi dalam keluarga.
Seorang kawan lain pernah pula mengalami liburan yang tak menyenangkan, karena tergoda oleh “efisiensi.” Dengan alasan penghematan, ia tak tinggal di hotel berbintang, walaupun sebenarnya anggarannya cukup memadai. Kepada keluarganya ia bilang, “Buat apa membayar hotel mahal-mahal, paling-paling hanya buat tidur.” Suasana liburan menjadi kurang menyenangkan. Tujuan liburan untuk relaksasi dan menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga semakin jauh dan kenyataan.
Godaan-godaan semacam itu akan senantiasa Anda alami dalam hidup.Karena itu tanpa tujuan yang dirumuskan secara jelas sangat mudah kita berbelok dan malah menjauhi tujuan semula.
Untuk dapat sukses dalam hidup Anda hanus menemukan apa yang paling penting. Saya ingin mengajak Anda membayangkan suatu han yang pasti akan Anda lalui. Di hari itu Anda melihat dini Anda sendiri sedang terbaring di ruangan yang dipenuhi kerabat dan handai tolan. ini adalah hari pemakaman Anda. Mereka semua memenuhi rumah Anda untuk mengekspresikan penghargaannya kepada Anda.
Masing-masing orang membawa kenangan tersendiri mengenai Anda. Itu tergambar dani wajah mereka masing-masing. Sebelun jenazah Anda dikuburkan beberapa dan mereka diminta menyampaikan “pidato singkat” mengenai Anda. Cobalah Anda renungkan dalam-dalam. Apa yang Anda ingin agar masing-masing pembicara itu berbicara mengenai Anda? Orang tua macam apakah Anda? Suami/Istri macam apakah Anda? Anak seperti apa? Saudara macam apa? Rekan kerja seperti apa? Tetangga macam apakah Anda?
Coba renungkan skenario di atas dalam-dalam. Setelah itu rumuskan dan tuliskan apa yang dapat Anda lakukan agan mereka semua memiliki kesan yang mendalam terhadap hidup Anda. ltulah tujuan Anda. Dengan demikian Anda akan paham apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup. (Avan .P)

Cintai Semua Nyawa

Cintai Semua Nyawa
“Apakah kamu merasa lebih baik hari ini?” tanya Fan. ia tahu istrinya menderita TBC, dan tidak mudah untuk disembuhkan, tetapi dia menjaganya dengan lembut dan sepenuh hati. “Terima....kasih. .atas.. .perhatianmu,” istrinya berkata terengah-engah, dengan mimik sangat kesakitan.
Fan meminta dokter terbaik di Chingk’ou, Chen Shihying untuk mengobati istrinya. Dokter Chen memeriksa istrinya dengan hati-hati dan menyuruh Fan untuk menunggu.
“Ada satu cara untuk mengobatinya, karena dia cukup parah,” Kata dokter tersebut. “Ambil seratus kepala burung pipit, dan buat mereka menjadi obat sesuai resep ini. Kemudian pada hari ketiga dan ketujuh makan otak burung pipit tersebut. Itu adalah caranya. ini merupakan rahasia turun-temurun dan nenek moyangku, dan tidak pernah gagal. Tetapi ingat kamu harus mempunyai seratus burung pipit. Kamu bahkan tidak boleh kekurangan satu pun.”
Fan ingin sekali menolong istrinya, sehingga dia langsung pergi membeli seratus burung pipit. Burung-burung itu berdesakan dalam satu sangkar yang besar. Mereka menciap-ciap dan berlompatan sangat memilukan, sebab tempatnya terlalu sempit bagi mereka untuk menikmati diri mereka sendiri. Bahkan mungkin mereka tahu kalau mereka akan dibunuh.
“Apa yang kau lakukan pada burung-burung tersebut?” tanya Nyonya Fan.
“Ini adalah resep spesial dokter Chen! Kita akan membuat mereka menjadi obat dan kamu akan segera sembuh,” suaminya dengan gembira menjawab.
“Tidak, jangan lakukan itu” Nyonya Fan duduk di atas ranjangnya. “Kamu tidak boleh mengambil seratus nyawa untuk menyelamatkan satu nyawa saya! Saya Iebih baik mati daripada membiarkan kamu membunuh semua burung pipit itu untukku!”
Fan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Jika kamu benar-benar mencintai saya,” istrinya melanjutkan, “Lakukan sesuai permintaan saya. Buka sangkarnya dan lepaskan semua burung pipit itu pergi. Lalu jika saya mati, maka saya akan meninggal dengan tentram.”
Apa yang dapat Fan lakukan? Fan mengambil sangkar itu dan dia bawa ke hutan kemudian dia membebaskan semua seratus burung pipit itu. Mereka terbang ke dalam semak-semak dan pohon-pohon dan bernyanyi serta berciap-ciap. Mereka terlihat dan bersuara seperti amat senang karena bebas.
Dalam beberapa hari, Nyonya Fan dapat bangun dan ranjang lagi, walaupun dia tidak minum obat apa pun. Teman-teman dan saudara-saudaranya berdatangan untuk menyelamatinya karena kesembuhannya yang cepat dan relatif singkat dan penyakit yang mengerikan itu. Semuanya sangat senang.
Tahun berikutnya, keluarga Fan mendapat bayi laki-laki. Dia amat sehat dan lucu, tetapi yang lucu adalah di setiap lengannya terdapat sebuah tanda lahir berbentuk seperti burung pipit. (Disadur dan buku ‘Mencintai Kehidupan’ – swaramer)

Kekuatan Pujian

Kekuatan Pujian
Ini kisah nyata tentang seorang penyanyi terkenal di Eropa, wanita bersuara bagus. Dia bersuamikan seorang pemusik dan seorang pengarang lagu. Begitu pandainya sang suami ini tentang lagu, nada, irama, dan hal lain di bidang musik, sehingga dia selalu menemukan apa yang harus dikoreksi ketika isterinya menyanyi.
Kalau isterinya menyanyi, selalu saja ada komentar dan kritik seperti; bagian depan kurang tinggi. Lain kali dia berkata, bagian ini kurang pelan. Kali lain dia mengkritik, “bagian akhir harusnya “kres”.. naik sedikit. Selalu saja ada komentar pedas yang dia lontarkan kalau isterinya menyanyi dan bersenandung. Akhirnya wanita itu malas menyanyi. Dia berkeputusan “Wah, tidak usah menyanyi saja, jika semua salah. Malah kadang menjadi pertengkaran...”
Singkat cerita, karena suatu musibah, sang suami meninggal dan lama setelah itu si wanita menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Tukang ledeng ini tidak tahu menahu soal musik. Yang ia tahu isterinya bersuara bagus dan dia selalu memuji isterinya kalau bernyanyi.
Suatu ketika isterinya bertanya, “Pak, bagaimana laguku?”
Dia menjawab antusias, “Ma, saya ini selalu ingin cepat pulang karena mau dengar engkau menyanyi.”
Lain kali dia berkata, “Ma, kalau saya tidak menikah dengan engkau, mungkin saya sudah tuli karena bunyi dentuman, bunyi gergaji, bunyi cericit dari pipa ledeng, gesekan pipa ledeng dan bunyi pipa lainnya yang saya dengar sepanjang hari kalau saya bekerja. Sebelum saya menikah denganmu, saya sering mimpi dan terngiang-ngiang suara gergaji yang tidak mengenakkan itu ketika tidur. Sekarang setelah menikah dan sering mendengar engkau menyanyi, lagumulah yang terngiang-ngiang”
lstrinya sangat bersuka cita, tersanjung. Hal itu membuat dia gemar bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi. Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya dia berlatih, berlatih dan berlatih. Suaminya mendorong hingga dia mulai merekam dan mengeluarkan kaset volume pertama dan ternyata disambut baik oleh masyarakat.
Wanita ini akhirnya menjadi penyanyi terkenal, dan dia terkenal bukan pada saat suaminya ahli musik, tetapi saat suaminya seorang tukang ledeng, yang memberinya sedikit demi sedikit pujian ketika dia menyanyi.
Sedikit pujian memberikan penerimaan. Sedikit pujian memberikan rasa diterima, memberikan dorongan, semangat untuk melakukan hal yang baik dan lebih baik lagi. Sedikit pujian dapat membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi. Omelan, bentakan, kecaman, amarah atau kritik sesungguhnya tidak akan banyak mengubah.(SM)